Senin, 06 Februari 2012

ASUL USUL LAMONGAN

Asal Usul Lamongan
Oleh: Masnukhan,S. Pd
(Tenaga Edukatif SMPN 1 Ujungpangkah Gresik)

Tidak seperti biasanya pagi itu Nyai Jika memanggil kelima putranya. Kelima putranya dipanggil ke rumahnya di Seng Ujungpangkah. Ada yang akan dimusyawarakan dengan putra-putranya.
“Putra-putraku, abahmu sudah lama pergi meninggalkan Ujungpangkah. Biasanya ayahmu pergi beberapa lama untuk bersilaturrahim ke familinya sambil berdakwah kemudian pulang. Tapi, kini sudah lebih satu tahun abahmu pergi meninggalkan Ujungpangkah namun belum kembali juga,” Nyai Jika membuka pertemuan itu.
“Mengembara memang kebiasaan abah sejak masih mudah, tapi kini lain. Ayah lama tidak pulang-pulang, ke mana kerangan abah?” ujar Pendel Wesi.
“Sekarang enaknya bagaimana?” tanya Jaka Berek Sawonggaling.
“Ya, sebagai seorang anak, seharusnya kita berkewajiban mencarinya,”usul Jaka Sekintel Cinde Amo.
“Saya sangat setuju usul adik Cinde Amo,” jawab Jaka Karang Wesi.
“Bagaimana menurutmu Jaka Slining?” tanya Nyai Jika.
“Saya mendukung pendapat Kakak Cinde Amo, tapi ke mana kita harus mencari abah?” jawab Jaka Slining alias Jaka Tingkir.
“Abah kalian itu mempunyai kebiasaan bersilaturrahim ke familinya. Abah kalian juga senang mengunjungi sahabat-sahabatnya. Bahkan abah kalian itu sering datang ke pondok santri-santri yang pernah belajar di Pondok Pangkah untuk memberikan dukungan moral agar terus mengembangkan agama Islam di tempat masing-masing. Kalau perlu santri-santri yang sudah tamat belajar dianjurkan agar mendirikan pondok di daerah asalnya” jelas Nyai Jika.
“Kalau begitu, untuk mencari abah kita terlebih dahulu mendatangi famili, sahabat, dan santri-santri abah. Kita mencari tahu apakah ayah pernah berkunjung ke tempat itu. Dari situ kita akan tahu ke mana abah pergi” usul Pendek Wesi.
“Bagaimana putra-putraku usul Kakakmu itu?” kata Nyai Jika
Semua putra Jayeng Katon mantuk-mantuk Musyawarah menyepakati usul Pendel Wesi lalu mereka  mengadakan pembagian tugas dalam pencarian abah mereka.
Pendel Wesi sebagai putra pertama, ia mendapat tugas mencari abahnya paling awal. Ia mendatangi pondok Sunan Drajat di Paciran. Ia menemui Sunan Drajat untuk menanyakan perihal abahnya sambul mohon petunjuk. Ia menceritakan perihal kepergian abahnya kepada Sunan Drajat, kakeknya sekaligus gurunya. Setelah mendapatkan petunjuk dari gurunya itu ia segera berpamitan .
Ia mencari abahnya di wilayah Paciran dan sekitarnya sambil berdakwah menyiarkan agama Islam kepada penduduk yang ditemuninya. Ia masuki desa demi desa, kampung demi kampung. Ia ubek-ubek desa-desa sambil menanyai kepada setiap orang yang ditemuinya. Namun, abahnya belum juga ditemukan. Ia pernah melihat dan tahu orang yang dicarinya itu tapi itu sudah beberapa bulan yang lalu. Ia hanya menunjuk arah ke mana abahnya itu pergi meninggalkan desanya.
Ia terus berjalan dan berjalan menuju arah yang ditunjukkan oleh orang-orang yang memberitahukannya. Sampai di suatu tempat ia melihat ada orang yang sedang bertengkar. Dua orang pemuda saling menyerang dengan menggunakan senjata tajam. Senjata tajam itu digunakan untuk bacokan atau lemengan. Keduanya saling menyerang. Melihat kejadian itu, jiwanya berontak. Ia akan melerai kedua pemuda itu. Namun, ia terlebih dahulu ingin mengorek sumber masalah yang menyebabkan keduanya bertarung ingin saling membunuh. Dari peristiwa tersebut tempat itu dinamai Lamongan. Hal ini berdasarkan kitab Primbon Sunan Bonang yang diwariskan secara turun temurun di Ujungpangkah.
Dari keterangan yang didapatkan, Pendel Wesi mengerti kalau kedua pemuda itu berebut seorang gadis cantik. Ia segera maju dan memisah kedua pemuda itu. Kedua pemuda itu tidak senang ada orang ketiga yang mencampuri urusannya. Keduanya balik menyerang kepada Pendel Wesi yang bermaksud baik. Keduanya menyerangnya. Namun yang diserang tidak memberikan perlawanan. Dibiarkan tubuhnya diserang dengan senjata tajam. Ia tidak menangkisnya. Bertubi-tubi senjata keduanya dihujamkan ke tubuh Pendel Wesi. Sabetan dan tusukan senjata tajam kedua pemuda Lamongan itu tidak sedikitpun menyentuh kulitnya. Akhirnya, senjata dari kedua pemuda itu disambar Pendel Wesi. Senjata-senjata itu dipatah-patahkan menjadi berkeping-keping hanya dengan kekuatan tangannya.  Kedua pemuda itu terbengong-bengong melihat senjatanya menjadi patahan-patahan logam yang teronggok di tanah.
Kedua pemuda itu bersujud menyerah dan minta maaf kepada Pendel Wesi. Ia memaafkan keduanya asal keduanya tidak saling bermusuhan lagi hanya karena memperebutkan seorang gadis. Kedua pemuda itu saling berjabat tangan dan berjanji akan selalu bersahabat. Biar gadis itu yang memilih siapa yang lebih dicintainya.
Gadis yang menjadi rebutan itu merapat ke Pendel Wesi. Dia minta perlindungan kepadanya. Dia ingin selalu dekat dengannya. Dia ingin mengikuti kemana pun ia pergi. Dia takut kedua pemuda itu berubah pikiran. Dia tidak mau ditinggalkan Pendel Wesi. Dia akan ikut dalam pengembaraan Pendel Wesi mencari Jayeng Katon. Pendel Wesi membujuk gadis itu agar ia tidak memngikutinya namun dia gadis itu tetap tidak mau. Dia akan mengikuti ke mana pun Pendel Wesi pergi mengembara. Rupanya dia jatuh hati kepada pemuda kebal senjata tajam itu. Dia ingin mempunyai seorang suami yang perkasa dan sakti.
Pendel Wesi menikahi gadis itu dan mengajaknya mencari abahnya. Dari pernikahan itu Pendel Wesi dikaruniai lima belas orang putra. Salah satu putranya bernama Jaka Umbaran.
Pendel Wesi pulang ke Pondok Bekuto di Ujungpangkah. Ia ke Ujungpangkah dengan mengajak tiga anaknya sedangkan dua belas anaknya ditipkan sementara di rumah mertuanya.
Di Ujungpangkah Pendil Wesi mendidik santri-santrinya di pondoknya hingga akhir hayatnya. Pesarean beliau di samping pondoknya, kini di komplek  makam Sabilan desa Pangkahwetan kecamatan Ujungpangkah Gresik.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar