Minggu, 02 Oktober 2011

Jiwosuto Putra Sunan Bonang Tuban

JIWOSUTO, 25 TAHUN DIKUBUR JASADNYA MINTA DIPINDAH
Oleh: Masnukhan
(Tenaga Edukatif SMPN 1 Ujungpangkah Gresik)

Jiwosuto adalah salah seorang tokoh legendaris Ujungpangkah. Setiap orang Ujungpangkah mengenal ketokohannya. Beliau seorang ulama yang memiliki ilmu kedigdayaan tingkat tinggi. Namanya tidak hanya dikenal oleh masyarakan Ujungpangkah dan sekitarnya. Hampir di setiap perguruan kanuragan di tanah Jawa ini selalu menjadikannya sebagai sosok guru atau pendekar kanuragan pujaan. Kebesaran nama Jiwosuto bagi masyarakat Ujungpangkah ditularkan secara lisan atau dari mulut ke mulut dari para sesepuh Ujungpangkah hingga saat ini..
Nama asli Jiwosuto adalah Syeh Abdul Hamid. Nama itu diterima dari para leluhur Ujungpangkah. Tentang asal usul Jiwosuto belum banyak diketahui masyarakat Ujungpangkah karena selama ini belum ada referensi tertulis yang dijadikan pijakan.
Lewat tulisan ini, penulis ingin menyampaikan sekilas riwayat Jiwosuto berdasarkan referensi tertulis.yaitu buku Primbon Sunan Bonang. Buku primbon itu sampai sekarang diwarisi dan dipegang oleh keturunan keempat belas Sunan Bonang yang berada di Ujungpangkah Buku itu tulisan tangan Sunan Bonang. Kiyai Muridin, keturunan kelima Sunan Bonang atau keturunan keempar Jayeng Katon menambahkan sejarah asal usul Ujungpangkah dalam buku primbon tersebut.
Menurut Muridin nama panggilan awal Jiwosuto adalah Jayeng Katon. Dipanggil demikian, karena beliau mempunyai ilmu halimunan atau ilmu menghilang. Kadang beliau terlihat kadang tidak terlihat. Kata katon dari bahasa Jawa yang berarti kelihatan.
Jayeng Katon adalah putra Sunan Bonang. Beliau datang ke wilayah Ujungpangkah untuk menyebarkan agama Islam. Beliau ditemani oleh putra pertamanya yang bernama Pendil Wesi dan seorang santri Sunan Bonang. Pendel Wesi putra Jayeng Katon dengan Nyai Jika, nama panggilan istri Jayeng Katon. Ketika itu Pendel Wesi masih kecil sedang Nyai Jika masih pergi melaksanakan ibadah haji. Jayeng Katon membawa kuda kesayangannya yang dipanggil Sembrani atau kuda Sembrani.
Di wilayah Ujungpangkah, mula-mula ketiga pengembara itu tinggal di Koang desa Kebunagung Ujungpangkah. Di tempat itu Jayeng Katon mendirikan pondok sebagai sarana berdakwah mengajarkan Islam kepada penduduk  Di pondoknya dilengkapi dengan sebuah sumur sebagai tempat untuk berwudlu dan mandi santri-santrinya. Di sisi sumur itu ditanami pohon beringin untuk tanda untuk mempermudah bila ada tamu yang mencarinya.
Tak seberapa lama adiknya yang dipanggil Jayeng Rono datang menyusulnya. Jayeng Rono ditugasi Sunan Bonang untuk menemani kakaknya berdakwah karena Pendel Wesi putranya masih kecil. Jayeng Katon bertemu kakaknya di pondoknya di Koang. Tempat bertemu Jayeng Rono dengan Jayeng Katon itu diabadikan sebagai nama tempat yaitu Koang. Koang dari panggilan kakang atau koang (bahasa Jawa, panggilan dari jauh).
Kedua putra Sunan Bonang itu tidak lama berdakwah di Koang dan sekitarnya. Keduanya akhirnya berpindah ke Ujungpangkah. Pondok yang ditinggalkan itu kelak diteruskan oleh putra Jayeng Rono yang bernama panggilan Sridi. Sridi mengasuh pondok itu sampai akhir hayatnya. Sridi dimakamkan tidak jauh dari pondok peninggalan Jayeng Katon. Bahkan namanya menjadi nama lomplek pemakaman itu yaitu Makam Sridi Koang.
Kedatangan ketiga keturunan Sunan Bonang di Ujungpangkah itu ditandai dengan penanaman tiga pohon asem. Asem Resik atau Semersik berada di pertigaan jalan Sitarda, Asem Growok atau Semgrowok berada jalan Jiwosuto dan Asem Angker atau Semangker. Asem Angker letaknya sekitar empat puluh meter ke utara letak Asem Growok dan sekarang berada di wilayah kampung Bauman Barat.
Di Ujungpangkah Jayeng Katon, Jayeng Rono, Pendel Wesi, dan seorang santri Sunan Bonang itu mendirikan rumah sekaligus sebagai pondok pesantren di tepi pantai Ujungpangkah. Pondok itu berada sekitar tiga puluh meter dari bibir pantai pulau Jawa. Di pondok itu, Jayeng Katon membuat sumur senggot dan beji atau jublangan yang digunakan sebagai tempat berwudlu dan mandi para santrinya. Di sisi sumur senggot terdapat watu gilang.
Keberadaan pondok Jayeng Katon mendapat sambutan dari penduduk Ujungpangkah dan sekitarnya. Banyak santri yang datang berguru ilmu agama maupun ilmu kanuragan kepada Jayeng Katon. Bahkan putra bangsawan dari Tuban datang berguru kepadanya misalnya Ronggo Janur, Ronggo Seto, dan Ronggo Lawe.
Kabar keberhasilan Jayeng Katon dalam pengembangan Islam di wilayah Ujungpangkah sampai juga ke Sunan Bonang ayahandanya di Tuban. Karena pondok Jayeng Katon belum mempunyai masjid yang dapat menampung penduduk bila melaksanakan salat Jumat, Sunan Bonang mengutus seorang santrinya mengirimkan kayu-kayu jati gelondongan untuk bahan pembangunan masjid di pondok putranya. Kayu-kayu itu dilarung ke laut. Kayu-kayu itu akan berhenti sendiri di tempat yang dituju. Kayu-kayu itu dikawal seorang santri Sunan Bonang yang dikenal dengan nama panggilan Maskiriman.
Kayu-kayu yang diikat dengan tali lingir dari tematan yang dikawal Maskiriman itu berhenti di pantai Ujungpangkah. Sebagaimana pesan Sunan Bonang kayu-kayu itu harus dijadikan sebuah masjid di tempat kayu-kayu itu berhenti. Tempat berhentinya kayu itu kini dinamai kampung Kramat karena tempat itu dianggap sebagai tempat yang kramat. Tempat berhentinya kayu-kayu itu tepat di sebelah utara pondok Jayeng Katon.
Jayeng Katon bersama kelima putranya, para santrinya dan  penduduk Ujungpangkah santri itu membangun masjid. Masjid itu semuanya terbuat dari bahan kayu jati. Masjid itu beratap susun tiga. Atap susun yang paling atas semuanya terbuat dari kayu, termasuk gentingnya. Kayu penyangga atap susun ketika itu diikat dengan tali lingir. Masjid itu berukuran 12 m x 12 m dengan empat tiang sokoguru, dan 32 pilar. Di tengah-tengah masjid terdapat tangga untuk ke atas menara. Masjid itu dilengkapi dengan mimbar yang mempunyai sandi sengkala naga kale warni tunggal yang menunjukkan tahun 1428 saka/ 1506 masehi/ 911 hijriah).Masjid itu dinamai masjid Jamik artinya masjid untuk berjamaah Jumat. Masjid itu berpagar tembok keliling dengan satu pintu gapura. Pintu itu bentuknya mirip dengan pintu gapura memasuki kompleks pemakaman Sunan Bonang. Di pintu masuk terdapat batu hitam berukuran 1,5 m x  0,30 m x 0,15 m. Batu itu sejenis dengan batu yang digunakan untuk membangun Kakbah di Mekkah. Batu itu dibawa oleh Nyai Jika sepulang dari menunaikan ibadah haji. Batu hitam itu disandingi dengan batu berbentuk keris. Batu itu merupakan replika keris Aji Saka. Sejak tahun 1975, masjid itu  dinamai Masjid Jamik Ainul Yaqin Ujungpangkah. 
Di timur Masjid terdapat alun-alun yang ditanami lima pohon beringin. Lima pohon beringin itu sebagai tempat berteduh atau bernaung. Berjumlah lima melambangkan lima rukun Islam. Lima pohon beringin mengisyaratkan lima putra Jayeng Katon yang siap membawa masyarakat Ujungpangkah di bawah perlindungan ajaran Allah yakni agama Islam. Kelima putra Jayeng Katon sebagai penerus perjuangan adalah Pendel Wesi, Jaka Karang Wesi, Jaka Berek Sawonggaling, Jaka Sekintel alias Cinde Amo, dan Jaka Slining alias Jaka Tingkir.
Kelima putra Jayeng Katon mengikuti jejak abahnya dalam mengembangkan Islam. Mereka juga mendirikan pondok sebagai sarananya. Pendek Wesi mendirikan pondok Bekuto di Bekuto Ujungpangkah, Jaka Karang Wesi mendirikan pondok Rebuyut di Rebuyut Ujungpangkah, Cinde Amo mendirikan pondok Unusan di Unusan Ujungpangkah, dan Jaka Slining mendirikan pondok Sabilan di Sabilan Ujungpangkah. Hanya Jaka Berek Sawonggaling yang tidak mendirikan pondok baru karena ia mengasuh pondok Pangkah menggantikan Jayeng Katon.
Suatu hari Jayeng Katon kedatangan tamu seorang  bupati Sidayu yang bernama Kanjeng Sepuh. Sebenarnya kedatangan Kanjeng Sepuh ini bukan yang pertama melainkan sudah kali ketiga. Yang pertama beliau datang untuk meminta tolong kepada Jayeng Katon untuk merawatkan kuda, kali kedua beliau meminta tolong untuk menanamkan pohon asem di sepanjang jalan Sidayu. Kedatangan beliau kali ketiga ini juga untuk meminta bantuan. Kali ini beliau hadir dengan membawa persoalan yang berat. Betapa tidak, beliau meminta kepada Jayeng Katon untuk menghadapi seekor banteng. Kanjeng Sepuh menerima sayembara dari atasannya bahwa bupati yang bisa mengalahkan banteng akan dinaikkan pangkatnya dan diperluas wilayah kekuasaannya.
Jayeng Katon alias Jiwosuto berpikir dengan tenang dan diam beberapa saat sebelum memberikan jawaban terhadap permintaan itu. Dengan nada rendah Jayeng Katon akan berusaha membantunya. Berbunga-bunga hati Kanjeng Sepuh mendengar jawaban yang keluar dari mulut orang yang sangat dikagumi itu.
Pada saat yang telah ditentukan Kanjeng Sepuh, Jayeng Katon dan rombongan dari pejabat kabupaten Sidayu berangkat menuju alun-alun Tuban untuk menghadiri sayembara itu. Sebelum berangkat Jayeng Katon meminta kepada Kanjeng Sepuh untuk bertukar baju dengan baju dengan Jayeng Katon. Setelah bertukar baju wajah Jayeng Katon berubah menjadi Kanjeng Sepuh. Begitu juga sebaliknya.
Dalam sayembara adu dengan banteng itu Jayeng Katon yang berpakaian kebesaran kabupaten Sidayu dapat mengalahkan banteng. Banteng itu dikeplak menjadi hancur berkeping-keping. Rombangan Kanjeng Sepuh pulang ke Sidayu dengan membawa kemenangan dan perasaan lega.
Atas jasa-jasa Jayeng Katon, Kanjeng Sepuh memberikan beberapa penghargaan atau hadiah kepada Jayeng Katon. Beliau memberikan beslit kepada Jayeng Katon bila keturunan Jayeng Katon menghendaki menjadi seorang naib tinggal menunjukkan berslit tersebut. Kanjeng Sepuh juga memberikan kewenangan penuh kepada Jayeng Katon untuk mengatur pemerintahan wilayah Ujungpangkah.Ujungpangkah dijadikan sebagai tanah merdikan  atau semacam otonom di bawah kekuasaan Jayeng Katon, namun masih tetap berada di bawah wilayah kabupaten Sidayu. Disamping itu, Kanjeng Sepuh membangunkan tugu di dua pintu masuk Ujungpangkah.
Setelah peristiwa adu banteng itu, Jayeng Katon hatinya merasa sedih dan perasaan bersalah karena telah membunuh binatang yang tidak bersalah. Untuk mengobati kegundaan hatinya, beliau berkholwat di goa Melirang Bunga selama tujuh hari tujuh malam untuk meminta ampun kepada Allah. Setelah itu, beliau mengembara untuk menyebarkan Islam di nusantara sambil bersilaturrahim ke sanak famili dan para santrinya.
Dalam pengembaraan itu, suatu malam Jayeng Katon bermimpi didatangi banyak orang berpakaian serba putih. Ini merupakan isyarat bahwa umur beliau tidak lama lagi. Beliau bergegas hendak pulang ke Ujungpangkah dengan kuda sembrani kesayangannya. Sampai di desa Siraman Dukun beliau tidak sanggup melakukan perjalanan lagi. Kebetulan di tempat itu ada seorang petani yang sedang menyirami tanaman. Sebelum menghembuskan napas terakhirnya, beliau berpesan bila Allah mengambil ajalnya untuk mengabarkan kepada keluarganya di Ujungpangkah.
Allah menakdirkan Jayeng Katon wafat di desa Siraman. Beliau dikuburkan di desa itu oleh penduduk Siraman. Selama 25 tahun wafat Jayeng Katon penduduk dilanda wabah penyakit atau pageblug. Wabah ini menyadarkan seorang petani yang pernah diwasiati Jayeng Katon. Petani itu menyampaikan wasiat Jayeng Katon sebelum wafat kepada ulama  setempat namun, ulama itu tidak percaya begitu saja. Tokoh itu melakukan istikhoro. Hasilnya, membenarkan ucapan petani itu. Jayeng Katon yang sudah terkubur selama 25 itu minta dipindah ke Ujungpangkah.
Kuburan Jayeng Katon digali dan disaksikan Nyai Jika, istrinya, dan kelima putranya serta penduduk setempat. Jasad itu tidak berubah sama sekali. Kain kafan pembungkusnya tidak rusak tetapi masih putih seperti sedia kala. Untuk memastikan kebenarannya, kelima putra Jayeng Katon membuka kain kapannya. Subhanallah, wajah Jayeng Katon seperti orang tidur. Karena jasad beliau masih utuh tatkala dibuka, sejak saat itu Jayeng Katon dijuluki JIWOSUTO..
Kabar pemindahan jasad Syekh Abdul Hamid alias Jayeng Katon alias Jiwosuto didengar oleh keluarga Kanjeng Sepuh Sidayu. Putra Kanjeng Sepuh dan keluarga ikut menghadiri penggalian itu. Ia menyiapkan kain kafan dan keranda untuk jasad Syekh Abdul Hamid. Itu dilakukan berkat jasa-jasa Syekh Abdul Hamid kepada Kanjeng Sepuh. Namun, kain kapan tidak terpakai karena kain kapan pembungkus Syekh Abdul Hamid masih utuh seperti semula. Termasuk keranda yang disiapkan. Karena banyaknya orang yang berebut untuk membawa jasadnya. Jasad itu dibawa dari tangan ke tangan mulai dari desa Siraman Dukun sampai ke Ujungpangkah.
Ketika jasad Syekh Abdul Hamid sampai di pertigaan jalan menuju Ujungpangkah, keluarga Kanjeng Sepuh meminta agar jasad Syekh Abdul Hamid dikuburkan di sebelah Kanjeng Sepuh di Sidayu. Setiap kali jasad itu akan dibawa ke arah timur menuju Sidayu, jasad itu seperti menolak. Pembawa jasad itu tidak mampu melangkahkan kakinya ke arah Sidayu, namun tatkala diarahkan ke utara menuju ke Ujungpangkah, pembawa jasad itu seakan-akan berjalan tanpa beban. Kejadian itu berulang-ulang. Atas peristiwa itu keluarga Syekh Abdul Hamid membawa ke Ujungpangkah. Keluarga Kanjeng Sepuh menerimanya dengan lapang dada. Jasad beliau akhirnya dikuburkan di belakang Masjid Jamik Pangkah, sekarang bernama Masjid Jamik Ainul Yaqin Ujungpangkah.


17 komentar:

  1. Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog.

      Hapus
  2. Kemudian DEWI RUKHIL menikah dengan Ja'far Shodiq (sunan KUDUS) dikarunia anak satu yang bernama AMIR HAMZAH. jadi sama sekali tidak ada hubungannya dengan Jiwosuto.....

    BalasHapus
  3. Silsilah tentang Sunan Bonang yang terdapat dlm artikel tsb berdasarkan kitab tulisan tangan Mbah Kanjeng Sunan Bonang diwariskan scr turun temurun ke keturunnya yang ada di Ujungpangkah. Pewaris kitab tsb sekarang sudah keturunan ke 14. Wallahu a'lam.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Siapa nama dari keturunan ke 14 tsbt

      Hapus
    2. Banyak keturunannya di Ujungpangkah

      Hapus
  4. Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog.

    BalasHapus
  5. Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog.

    BalasHapus
  6. Eonggolawe itu ayah dari lokajaya (sunan kali jogo)

    BalasHapus
  7. Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog.

    BalasHapus
  8. Sunan bonang wali bujang kok ada anak ea lucu

    BalasHapus
    Balasan
    1. Silsilah tentang Sunan Bonang yang terdapat dlm artikel tsb berdasarkan kitab tulisan tangan Mbah Kanjeng Sunan Bonang diwariskan scr turun temurun ke keturunnya yang ada di Ujungpangkah. Pewaris kitab tsb sekarang sudah keturunan ke 14. Wallahu a'lam.

      Hapus
    2. Assalamualaikum. Aku ingin tau lebih banyak tentang cucu cicit Mbah Bonang. Sampai saat ini . Artikelnya di mana nyarinya yaaa.

      Hapus
    3. Waalaikum salam, saya sudah terbitkan buku Kisah Rakyat Ujungpangkah Keturunan Sunan Bonang Tuban, namun bukunya sdh habis terjual tinggal fotokopinya ada di rumah

      Hapus
  9. Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog.

    BalasHapus
  10. maaf sebelumnya. pernah dlm dzikir saya mimpi didatangi istri kj sunan bonang/isinya rahasia. pernah didatangi kj sunan bonang/isi rahasia. saya yakin kj sunan bonang punya istri dan anak.

    BalasHapus
  11. maaf sebelumnya. pernah dlm dzikir saya mimpi didatangi istri kj sunan bonang/isinya rahasia. pernah didatangi kj sunan bonang/isi rahasia. saya yakin kj sunan bonang punya istri dan anak.

    BalasHapus