Kamis, 27 Oktober 2011

ASAL MUASAL DESA DUKUN GRESIK


DUKUN, DESA KELAHIRAN BUPATI KETURUNAN JAKA TINGKIR
Oleh: Masnukhan, S. Pd.
(Tenaga Edukatif SMPN 1 Ujungpangkah Gresik)

Desa Dukun tiba-tiba menjadi buah bibir masyarakat Gresik, Jawa Timur, bahkan seluruh Indonesia. Desa yang menjadi ibukota kecamatan Dukun itu sebenarnya seperti desa-desa lain, tidak ada yang istimewa dari desa itu. Namun, nama desa itu tiba-tiba banyak disebut dan diperbincangkan banyak orang. Nama desa itu mengorbit bak artis yang sedang naik daun sejalan dengan terpilihnya Drs. K.H. Robbah Ma’sum, M. M. sebagai bupati Gresik pertama yang terpilih pada era reformasi.
Bupati yang diusung oleh Partai Kebangkitan Bangsa itu yang telah menorehkan tinta emas dalam pemerintahan kabupaten Gresik Betapa tidak, euforia reformasi yang ditandai dengan berdirinya partai-partai baru bentukan rakyat itu telah mengantarkan         Drs. K. H. Robbah Ma’sum, M. M., keturunan tokoh legendaris Jaka Tingkir,  sebagai bupati yang muncul dari dari bawah. Tidak  seperti pada masa Orde Baru, bupati itu dianggkat berdasarkan ‘restu’ dari atas. Apalagi, beliau adalah putra daerah. Disamping itu beliau sebagai bupati pertama yang terpilih dalam pemilihan bupati secara langsung oleh rakyat. Nama beliau layak diabadikan dan dikenang oleh segenap anak bangsa yang berada di kabupaten Gresik khususnya.
Terpilihnya Drs. K.H. Robbah Ma’sum, M. M. sebagai bupati ikut mengangkat nama desa Dukun ke permukaan. Sebelumnya nama desa dukun belum banyak dikenal orang. Bahkan perkataan dukun sendiri kurang begitu mendapat tempat di pikiran kaum intelektual. Kata itu sangat berkaitan erat dengan hal-hal yang mistis bahkan cenderung berkonotasi negatif. Hal itu wajar karena bangsa Indonesia ratusan tahun menganut agama Hindu dan Buda. Bahkan sisa-sisa kepercayaan animisme dan dinamisme masih melekat pada sebagian bangsa Indonesia. Begitu juga halnya penggunaan istilah dukun masih terpengaruh oleh paham lama.
Lewat tulisan ini akan sedikit mengungkap mengapa desa itu dinamai desa Dukun sebagai salah satu wacana bagi generasi muda untuk mengetahui asal-muasal nama desanya. Hal ini amat penting agar generasi muda tidak terputus dari akar budaya bangsanya.
Bila kita mendengar kata dukun, bayangan kita akan teringat pada sosok orang yang berpenampilan nyentrik, sangar, berpakaian kumal, badanya berbau kemenyan, mengagung-agung benda-benda yang dituahkan dan sebagainya. Dukun adalah sosok orang yang dipercaya mempunyai ilmu linuwih yang mampu menolong pasienya yang memerlukan jasanya hanya dengan kekuatan mantra atau doa-doa. Dukun dipercaya bisa membantu mengantarkan kesuksesan keperluan pasiennya seperti dalam bidang pengobatan, perjodohan, kepangkatan, pelarisan dagangan, dan lainnya.
Image masyarakat sudah mendarah daging terhadap keberadaan dukun. Masyarakat menggeneralisasikan bahwa orang yang dipercaya mempunyai ilmu linuwih yang mampu menolong pasienya dengan kekuatan mantra atau doa-doa dikategorikan dukun. Padahal dalam kenyataan di masyarakat banyak digunakan istilah dukun dalam pengertian yang lebih luas seperti dukun bayi, dukun pijat, dukun anak, dsb.
 Dalam dunia perdukunan sendiri dukun dikategorikan menjadi dua. Ada dukun abangan dan ada dukun putihan. Dukun abangan untuk menyebut dukun beraliran hitam dan dukun putihan untuk menyebut dukun beraliran putih.  Kata abangan berasal dari kata aba’an dari bahasa Arab yang berati melanggar sedangkan kata putihan juga berasal dari bahasa Arab muthi’an yang berarti taat. Maksudnya, aba’an bermakna melanggar larangan Allah sedangkan muthi’an bermakna taat terhadap perintah Allah.
Kembali ke pokok permasalahan. Sekarang apa hubungan antara nama desa Dukun dengan perdukunan. Apakah di tempat itu dulu menjadi tempat  para dukun sehingga desa itu diberi nama Dukun.
Menurut buku Primbon Sunan Bonang.disebutkan bahwa dulu di wilayah itu (sekarang Dukun) hidup seorang yang sakti mandraguna dan juga menguasai ilmu ketabibab atau ‘pedukunan’. Orang itu dikenal dengan sebutan Jaka Umbaran. Nama itu merupakan panggilan sehari-hari yang diberikan  ayahnya kepadanya. Kebiasan Jaka Umbaran sejak masih usia belia mengembara dari satu desa ke desa lainnya itulah yang melatarbelakangi  sebutan itu. Jaka Umbaran sebenarnya putra asli Ujungpangkah. Ia putra Pendel Wesi bin Jayeng Katon.
Jaka Umbaran memang senang lelaku dengan mengembara sambil mengamalkan ilmu yang telah diwariskan oleh orang tuanya yang terkenal sangat sakti dan disegani baik oleh kawan maupun lawan. Kedigdayaan Pendil Wesi ayahnya tidak diragukan lagi. Belanda sendiri merasa kewalahan menghadapi cucu Sunan Bonang itu. Berbagai uapaya telah dilakukan oleh kompeni Belanda untuk menangkap hidup atau mati namun selalu mengalami kegagalan. Sampai wafat pun jasad Pendel Wesi masih dicari-cari oleh Belanda sehingga kuburannya di Ujungpangkah dirahasiakan oleh kluarganya.
Dalam pengembaraan itu Jaka Umbaran sampai di wilayah yang sekarang bernama dukun. Di tempat itu hatinya merasa cocok tinggal lebih lama. Ia menyebarkan agama Islam kepada penduduk setempat dan sekitarnya sambil memberikan pertolongan kepada mereka yang membutuhkan dalam hal ketabiban.
Mula-mula hanya satu dua masyarakat yang datang kepadanya untuk meminta pertolongan menyelesaikan persolanan yang dihadapi. Lama-lama yang datang kepadanya semakin banyak. Dari mulut pasien yang merasa berhasil ditolong itu kabar adanya seorang yang mempunyai ilmu linuwih itu menyebar ke kana-mana.
Jaka Umbaran akhirnya merasa kewalahan menerima tamu-tamunya yang berasal dari berbagai daerah. Namun demikian tidak membuat dirinya menjadi sombong. Ia tetap bersahaja kepada siapapun. Bahkan ia masih menyempatkan mendatangi panggilan ke rumah pasiennya. Kadangkala pasien yang memanggil itu tempat tinggalnya  berada di wilayah selatan Bengawan Solo. Ia tetap memenuhi panggilan itu disela-sela kesibukannya menerima tamu-tamunya. Bila ia mendatangi pasiennya di sebarang Bengawan Solo, ia lalui sungai itu tanpa menggunakan perahu atau lainnya. Ia mampu berjalan di atas air.
Ketinggian ilmu Jaka Umbaran memang telah banyak dikagumi banyak orang. Saat masih anak-anak, ia bisa menyambung tali duk yang sudah terpotong kecil-kecil dan sudah dicampur dengan dempul menjadi tali duk yang utuh. Bahkan kapal Mbok Roro Kunti menjadi sakti bisu kesaktiannya. Puing-puing kapal itu sampai kini masih menjadi bukti keperkasaannya..Gara-gara anak buah kapal itu tidak mengizini Jaka Umbaran untuk ikut menumpang berlayar menemui Pendel Wesi di Mesir, kapal itu terpaku di tempatnya tidak bisa bergerak hingga kini. Tempat itu kini merupakan area pertambakan dengan sebutan tambak Kunti.
Di wilayah Dukun Jaka Umbaran sudah kondang ke mana-mana  sebagai seorang dukun sakti. Wilayah itu seakan-akan menjadi ikon dukun. Lama-lama ikon itu menjadi nama desa yang ditempati oleh Jaka Umbaran. Desa Dukun rupanya menjadi tempat pengabdiannya kepada masyarakat dan sebagai tempat perjuangan penyebaran agama Islam. Ia rela meninggalkan Ujungpangkah sebagai tanah kelahirannya untuk menetap di Desa Dukun. Apalagi setelah ia terpikat dengan seorang gadis wilayah utara Dukun. Ia menikah dengan gadis itu dan menetap di tempat itu. Di tempat itu ia menanam pohon asem sebagai tanda untuk mempermudah tamu-tamu yang mencarinya. Tempat tinggalnya akhirnya terkenal dengan sebutan desa Lasem.
Dari perkawinan dengan gadis desa Lasem, cicit sunan Bonang itu dikaruniai delapan orang anak. Salah satu putranya yang mewarisi ilmunya dan meneruskan perjuangan Jaka Umbaran dikenal dengan panggilan  Mbah Jangan. Meski masih kecil ia dipanggil dengan sebutan Mbah klarena ilmunya yang tua.
Jaka Umbaran bin Pendil Wesi bin Jayeng Katon bin Sunan Bonang itu berjuang di Lasem dan sekitarnya hingga wafat. Ia dimaqbarahkan di desa Lasem di bawah pohon yang ada prasastinya. 

1 komentar:

  1. Kalau menulis yang logis dan konkrit pak, tolong tulis silsilah Joko Tingkir sampai KH. Robbah Ma'sum , Dukun, Sambung apa tidak ?

    BalasHapus