Minggu, 02 Oktober 2011

Kembange Ringin



Hampir semua orang Ujungpangkah yang berumur di atas lima puluh tahun pernah mendengar cerita itu bahwa kelak di Ujungpangkah akan ada kembange ringin. Cerita itu dituturkan secara turun-temurun. Namun, sejauh ini belum ada yang bisa menafsirkan maksudnya. Sepengetahuan mereka belum pernah ada kembang ringin sebab pohon beringin termasuk pohon yang tidak berbunga. Pohon itu langsung berbuah tanpa melalui proses berbunga terlebih dahulu. Kalau ada pohon beringin berbunga berarti imposible,tidak mungkin alias tidak masuk akal.
Jika demikian, berarti ungkapan kembange ringin tidak bisa dicerna secara arti denotatifnya saja, bisa saja ungkapan itu bermakna konotatif bahkan bermakna lambang. Hal ini sudah menjadi kebiasaan nenek moyang kita yang sering menggunakan kata-kata bermakna kias atau kata-kata bermakna lambang untuk mengemukakan sesuatu yang dianggap penting agar tidak terkesan mendahului kehendak takdir. Suatu misal ungkapan kebomas. Mana mungkin ada kerbau emas kalau bukan boneka. Namun, setelah adanya pabrik Semen Gresik orang baru menyadari bahwa ungkapan itu merupakan perlambang kalau di tempat itu ada sumber alam yang dapat diolah menjadi semen. Hasil pabrik Semen Gresik cukup bahkan lebih untuk membeli kerbau emas.
Begitu juga dengan ungkapan kembange ringin. Ini merupakan teta teki yang harus dipecahkan. Sebagian ada yang mencoba mencari jawab teka-teki itu kepada  sesepuh Ujungpangkah, namun belum menemukan jawabannya. “Kalau saatnya tiba akan tahu sendiri,” itulah jawaban yang selalu didapatkan. Sampai kapan misteri ini akan berakhir, tidak ada yang bisa memberikan kepastian.
Misteri itu mulai sedikit terkuak setelah di Ujungpangkah diadakan eksplorasi sumber minyak bumi. Ada sebagian orang yang berani menafsirkan bahwa yang dimaksud dengan kembange ringin itu adalah sumber minyak yang berada di wilayah perarian lepas pantai Ujungpangkah. Apa hubungannya antara kembange ringin dengan sumber minyak. Di mana logikanya, sepertinya tidak ada hubungannnya. Yang berpendapat demikian lebih lanjut mengemukakan,”Ungkapan itu sebenarnya tidak berdiri sendiri, tetapi ada ungkapan lain yang saling berhubungan. Sebelum ditemukan kembenge ringin ditandai dengan adanya pohon asem yang bersatu dengan pohon beringin”.
Pendapat itu rupanya memang bisa dinalar. Pohon asem yang bersatu dengan pohon beringin ternyata benar-benar ada, bukan khayal belaka. Di Ujungpangkah, tepatnya di kampung Karya Bakti RW 3 desa Pangkahkulon memang terdapat asem yang disebut penduduk setempat asem gerowok. Entah, bagaimana asal-muasal pohon asem itu ditumbuhi beringin. Tidak ada yang mengetahuinya. Memang, tidak terjadi secara tiba-tiba dan tidak ada yang memperhatikan. Setelah beringin itu tumbuh menjalar ke cabang dan batang pohon asem, banyak orang melihatnya sebagai suatu keanehan.
Pohon asem itu memang termasuk pohon yang antik. Betapa tidak, disamping umurnya yang sudah ratusan tahun pohon itu batang dan cabangnya berlubang (Jawa: growok). Menurut Muridin, salah seorang generasi kelima Jayeng Katon bin Sunan Bonang, pohon asem itu merupan satu dari tiga pohon yang ditanam oleh Jayeng Katon, leluhur orang Ujungpangkah. Katanya, ada tiga pohon asem yang ditanam di Ujungpangkah untuk menandai tiga keturunan Sunan Bonang sebagai penyebar agama Islam di Ujungpangkah. Mereka itu adalah Jayeng Katon, Jayeng Rono adiknya, serta Pendil Wesi putranya.
Ketiga pohon asem itu masing-masing bernama asem resik atau semersik, asem growok atau semgrowok, dan asem angker atau semangker. Dari ketiga pohon asem itu, kini yang masih kokoh berdiri hanya asem growok, sedangkan asem resik yang berada di pertigaan jalan Sitarda dan asem angker yang berada di wilayah Kauman Utara sudah lama dipotong.
Asem growok itu ditumbui pohon beringin. Beringin itu hidup bak benalu yang tumbuh menempel pada induknya. Cabang dan ranting beringin itu melilit batang dan cabang pohon asem. Daun asem dan beringin bersatu dalam satu pohon.
Memang, tak lama setelah adanya pohon asem yang bersatu dengan beringin, di lepas pantai Ujungpangkah ditemukan sumber minyak. Apakah ini kebetulan, Wallahu a’lam. Cerita itu belum cukup sampai di sisni. Bapak Haji Sihab, pemegang pakem Ujungpangkah pernah mengatakan, “Kelak di perairan Ujungpangkah bakal ada pasar kambang.”
Orang Ujungpangkah mulai bisa membaca misteri ungkapan-ungkapan yang pernah didengarnya setelah melihat kenyataan yang terjadi di daerahnya. Pasar kambang itu mereka tafsirkan anjungan minyak yang kini telah berdiri di laut lepas Ujungpangkah karena di malam hari anjungan itu terlihat seperti  pasar malam. Anjungan itu dipasang lampu-lampu yang terang benderang.
Setelah terwujudnya anjungan eksplorasi minyak yang dibangun di lepas pantai Ujungpangkah itu berdiri orang Ujungpangkah teringat pesan yang pernah disampaikan oleh haji Sihab. Eksprorasi itu dilakukan oleh perusahaan dari Amerika yang bernama Amereda Hess.
Dengan adanya anjungan itu orang Ujungpangkah sangat mengharap agar apa yang pernah dilambangkan oleh leluhurnya benar-benar menjadi kenyataan. Kembange ringin alias sumber minyak itu.
“Bila kebange ringin telah ditemukan akan membawa Indonesia menjadi negara yang kaya raya. Hasil kembange ringin itu mampu melunasi hutang-hutang negara Indonesia sebesar apapun,”.ujar haji Sihab.
Bahkan haji Sihab menambahkan kelak presiden Indonesia yang mampu membawa negara menjadi negara kaya raya dan disegani oleh bangsa-bangsa di dunia adalah putra keturunan dari Ujungpangkah. Calon presiden Indonesia itu akan lahir di sebelah utara Masjid Jamik Ujungpangkah. “Pangkah bakal mengku negara,” katanya.
Itulah masa-masa yang ditunggu orang Ujungpangkah. Cerita itu diharapkan tidak sekedar mitos tetapi benar-benar akan menjadi kenyataan. Menurut hasil penelitian diketaui bahwa memang terdapat sumber minyak yang sangat besar di lepas pantai Ujungpangkah tersebut dan diperkirakan dalam masa kurang lebih seratus tahun baru akan habis kandungan minyaknya.

1 komentar: