Minggu, 02 Oktober 2011

Beji Petilasan Syekh Maulana Ishaq

Syekh Maulana Ishaq merupakan salah seorang Dewan Dakwah Islam di Indonesia periode pertama, khususnya pulau Jawa, tempo dulu. Dewan Dakwah itu lebih dikenal dengan sebutan Walisongo karena jumlah mereka sembilan (Jawa: songo). Kesembilan Walisongo periode pertama itu adalah:
1.     Syekh Maulana Malik Ibrahim, berasal dari Turki. Beliau seorang negarawan atau ahli mengatur neraga. Pesarean beliau berada kompleks pemakaman  Pusponegoro  di Desa Gapura kabupaten Gresik. Beliau wafat pada tahun 882 Hijriah atau 1419 M.
2.     Syekh Maulana Ishaq, berasal dari Samarkan, dekat Buhara Rusia selatan. Beliau ahli dalam bidang pengobatan.
3.     Syekh Maulana Ahmad Jumadil Qubro, berasal dari Mesir. Beliau berdakwah keliling. Pesarean beliau di Troloyo Trowulan Mojokerto.
4.     Syekh Maulana Muhammad Al Maghrobi, berasal dari Maghrib atau Maroko. Beliau berdakwah keliling. Beliau wafat tahun 1465 M dan dimakamkan di Jatinom Klaten Jawa Tengah.
5.     Syekh Maulana Malik Isroil, berasal dari Turki. Beliau ahli dalam bidang mengatur negara. Beliau wafat tahun 1435 M dan dimakamkan di gunung Santri Cilegon Jawa Barat.
6.     Syekh Maulana Muhammad Ali Akbar, berasal dari Persia atau Iran. Beliau ahli dalam bidang pengobatan. Beliau wafat tahun 1435 M dan dimakamkan di gunung Santri Cilegon Jawa Barat.
7.     Syekh Maulana Hasanuddin, berasal dari Palestina. Beliau berdakwah keliling. Beliau wafat tahun 1462 M dan dimakamkan di samping masjid Banten lama.
8.     Syekh Maulana Alayuddin, berasal dari Palestina. Beliau berdakwah keliling. Beliau wafat tahun 1462 M dan dimakamkan di samping masjid Banten lama.
9.     Syekh Maulana Subakir, berasal dari Persia. Beliau ahli menumbali tanah yang angker yang dihuni jin-jin jahat. Syekh Subakir kembali ke Persia tahun 1462 dan wafat di sana.
Syekh Maulana Ishaq berdakwah di wilayah Blambangan dan sekitarnya. Beliau menyebarkan agama Islam secara bersembunyi-sembunyi di wilayah kerajaan Blambangan yang diperintah oleh Prabu Menak Sembuyu, salah seorang keturunan Prabu Hayam Wuruk dari kerajaan Majapahit. Raja dan rakyat kerajaan Blambangan kala itu masih memeluk agama Hindu dan Budha, agama yang lebih dulu masuk ke Blambangan.
Syekh Maulana Ishaq dijadikan menantu Prabu Menak Sembuyu setelah berhasil menyembuhkan penyakit yang diderita oleh Dewi Sekardadu, putri satu-satunya. Disamping itu, raja dan rakyatnya mau diajak memeluk agama Islam sesuai janjinya bila beliau berhasil menyembuhkan putrinya.
Setelah menikah dengan Dewi Sekardadu, Syekh Maulana Ishaq juga diberi kedudukan sebagai adipati untuk menguasai sebagian wilayah Blambangan. Dengan kedudukan itu beliau leluasa mengajak penduduk untuk memeluk agama Islam. Beliau tidak lagi secara bersembunyi-sembunyi dalam berdakwah tetapi secara terang-terangan. Kian hari kian banyak yang memeluk agama Islam.
Keberhasilan Syekh Maulana Ishaq dalam berdakwah di Blambangan mendapatkan tantangan dari Patih Bajul Sengara dan pembesar-pembesar Blambangan yang tidak menyukai adanya agama Islam di wilayahnya. Ia dan pengikutnya meneroro penduduk yang memeluk agama Islam agar kembali ke agama semula. Mereka juga tidak segan-segan melakukan penculikan, penyiksaan, dan penyiksaan  kepada pengikut Syekh Maulalan Ishaq.
Kebencian Patih Bajul Sengara terhadap Syekh Maulana Ishaq telah memuncak.   Suatu malam Patih Bajul Sengara dan pasukannya melakukan penyerangan ke kadipaten yang dipimpin Syekh Maulanan Ishaq. Dua pasukan sudah saling berhadap-hadapan. Namun, Syekh Maulanan Ishaq tidak mengharapkan adanya pertumpahan darah antara para pengikutnya dengan prajurit yang setia kepada Patih Bajul Sengara. Syekh Maulana Ishaq memilih meninggalkan Blambangan. Sebelum pergi beliau berpamitan kepada istrinya.
Syekh Maulana Ishaq pada tengah malam dengan hati yang berat meninggalkan istrinya dan Blambangan Beliau berjalan ke arah barat menyusuri jalan di sepanjang pantai utara Jawa. Beliau hendak menuju ke pantai Ujungpangkah yang kala itu sebagai pelabuhan atau tempat bersandarnya kapa-kapal dagang.
Setiba di pantai Ujungpangkah dan hendak meninggalkan pulau Jawa waktu Asar tiba. Syekh Maulana Ishaq akan menunaikan salat Asar sebelum naik kapal, namun beliau tidak menemukan air tawar untuk berwudlu karena tempat itu berada di tepi pantai dan asin airnya. Beliau  memohon kepada kepada Allah, dengan karomahnya tiba-tiba di dekatnya muncul sumber air tawar. Beliau berwudu dan melaksanakan salat Asar di seleh barat munculnya sumber air tawar itu. Beliau meninggalkan pulau Jawa pada tahun 1442 M dan berlayar menuju Pasai.
Tanah tempat Syekh Maulana Ishaq melaksanakan salat Asar itu menjadi masjid. Jayeng Katon bin Sunan Bonang, penyebar Islam di Ujungpangkah, membangun masjid di tempat petilasan tersebut  Masjid yang dibangun Jayeng Katon dibantu Kiyai Maskiriman, para santri Sunan Bonang dan penduduk Ujungpangkah itu bernama Masjid Jamik Pangkah, kini bernama Masjid Jamik Ainul Yaqin Ujungpangkah. Sedangkan petilasan sumber air untuk berwudlu itu dibangun menjadi beji atau jublangan.
Beji itu berukuran 3 x 5 meter. Beji itu digunakan sebagai tempat mandi dan berwudlu para santri Jayeng Katon. Disamping membuat beji, Jayeng Katon juga membuat sumur senggot yang jaraknya 25 meter ke barat. Meskipun jaraknya dekat kedua sumber air itu  berbeda. Sumur senggot itu jernih airnya sedangkan air beji itu berubah-ubah warnanya.
Air beji itu kadangkala berwarna hijau, kadangkala berubah warna menjadi merah delima. Bahkan, suatu saat-saat tertentu air beji bisa mendidih. Saat itu adalah saat yang ditunggu-tunggu orang sebab siapa yang menggunakan air itu untuk mandi ia akan menjadi kedotan atau tidak mempan senjata apapun. Hal ini bukan mitos belaka. Suatu ketika seorang penduduk yang tiggal di tetangga masjid itu mandi saat air beji mendidih, tubuhnya menjadi kedotan padahal sebelumnya ia tidak memiliki kelebihan apa-apa. Bahkan, ada sebagian penduduk yang tidak percaya kepada orang tersebut kedotan, mereka mengadakan pengetesan. Mereka akhirnya percaya setelah membuktikan kekebalan orang tersebut.
Pada waktu perang merebut kemerdekaan, pejuang-pejuang Ujungpangkah yang ikut berjuang melakukan ritual khusus dengan mandi air beji agar mereka kebal terhadap senjata apapun. Setelah itu mereka dilengkapi dengan tiga batu kerikil yang diambil di atas pusara Syekh Abdul Hamid alias Jayeng Katon alias Jiwosuto.
Tidak hanya penduduk Ujungpangkah yang memanfaatkan air beji itu  Banyak penduduk dari luar kota seperti Lamongan, Tuban, Bojonegoro, Surabaya, Malang, Madura, bahkan dari Jawa Tengah memanfaatkan air beji itu sebagai sarana penyembuhan dan kekebalan. Biasanya mereka mandi usai melakukan lelaku pada bulan Sela. Mereka mengakhiri lelaku dengan mandi di beji tersebut.
Air beji itu kini tidak lagi berubah seperti dulu lagi. Setelah tahun 1975 airnya menjadi jernih. Sebenarnya leluhur Ujungpangkah.sudah mengisyaratkan  bahwa  kelak air beji petilasan Syekh Maulana Ishaq itu tidak berubah-ubah lagi warna airnya jika sudah ada rel kereta naik Masjid Jamik Pangkah. Ternyata isyarat itu terbukti. Setelah pembangunan perluasan masjid pada tahun 1975, air beji sudah tidak berubah lagi. Adapun yang dimaksud dengan rel kereta itu tenyata rel pintu masjid. Memang, pintu masjid dari perluasan itu menggunakan tiga pintu yang semuanya menggunakan rel.
Meskipun air beji itu sudah tidak berubah-ubah lagi, tidak menyurutkan masyarakat untuk ngalap berkah dari pembuatnya menggunakan air itu berbagai keperluan, misalnya sarana kesembuhan, kekebalan, dan lainnya.

3 komentar:

  1. Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog.

      Hapus
    2. Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog.

      Hapus